Boltara – Ancaman abrasi pantai kian nyata dan mengkhawatirkan di wilayah pesisir Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Boltara). Berdasarkan pantauan wartawan suarasulut.com, sedikitnya tiga kecamatan kini berada dalam kondisi darurat akibat gerusan ombak yang terus mengikis daratan, yakni Kecamatan Sangkub, Bolangitang Barat, dan Pinogaluman.
Di sejumlah titik pesisir, abrasi terlihat semakin parah dari hari ke hari. Garis pantai terus mundur, mendekati pemukiman warga. Bahkan, beberapa rumah dilaporkan sudah berada di ambang kehancuran akibat terjangan ombak yang tak lagi terbendung.
Warga setempat mengaku was-was setiap kali air laut pasang. Mereka khawatir suatu saat rumah yang mereka tempati akan hilang ditelan laut. Kondisi ini tidak hanya mengancam tempat tinggal, tetapi juga keselamatan jiwa masyarakat yang bermukim di kawasan pesisir.
“Setiap malam kami tidak tenang. Ombak sudah dekat sekali dengan rumah. Kalau tidak segera ditangani, kami takut desa ini bisa hilang,” ungkap Alul salah satu warga di Desa busisingo Utara kecamatan Sangkub.
Hal serupa juga terlihat di Kecamatan Bolangitang Barat dan Pinogaluman. Infrastruktur dasar seperti jalan desa dan fasilitas umum mulai terdampak. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin kerusakan akan meluas dan menimbulkan kerugian lebih besar.
Situasi ini menjadi alarm keras bagi pemerintah. Diperlukan langkah cepat dan konkret dari pemerintah daerah, provinsi hingga pusat untuk menangani abrasi yang kian mengganas.
Penanganan seperti pembangunan tanggul penahan ombak, pemecah gelombang, hingga program rehabilitasi pesisir dinilai mendesak untuk segera direalisasikan.
Pemerintah Kabupaten Boltara diharapkan dapat segera berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat guna mencari solusi jangka pendek maupun jangka panjang. Mengingat dampak abrasi tidak hanya soal kerusakan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat.
Jika tidak ditangani dengan serius, abrasi ini berpotensi memusnahkan desa-desa pesisir secara perlahan. Waktu terus berjalan, sementara ancaman semakin nyata di depan mata. Kini, masyarakat hanya bisa berharap ada tindakan cepat sebelum semuanya terlambat.(***)





