‎Sintya Bojoh Tancap Gas Rebut Kursi Ketua PWI Sulut

oleh -654 Dilihat

MANADO — Sejarah baru mulai ditorehkan di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Utara. Wartawati televisi nasional, Sintya Nidya Christin Bojoh, resmi mendaftar sebagai calon Ketua PWI Sulut periode 2026–2031, Kamis (19/3/2026), di kantor PWI Sulut, Jalan Sudirman, Manado.

‎Langkah Sintya bukan sekadar pendaftaran biasa. Ia mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang berani menembus dominasi laki-laki dalam kontestasi Ketua PWI di tingkat provinsi, sebuah gebrakan yang selama ini nyaris tak tersentuh.

‎Kehadirannya sekitar pukul 14.00 WITA langsung menyita perhatian. Bukan hanya karena statusnya sebagai satu-satunya kandidat perempuan, tetapi juga simbol yang ia bawa: busana adat Kabasaran. Pakaian perang khas Minahasa itu menjadi pesan terbuka bahwa ia datang bukan untuk sekadar meramaikan, tetapi menantang stagnasi dan mengusung perlawanan terhadap pola lama di tubuh organisasi.

‎Didampingi puluhan pendukung, sebagian juga mengenakan atribut Kabasaran, langkah Sintya terasa seperti deklarasi perubahan. Ia mengirim sinyal tegas: PWI Sulut butuh arah baru, bukan sekadar melanjutkan rutinitas lama yang dinilai mulai kehilangan daya dobrak.

‎“Kalau saya terpilih nanti, saya akan menjadi pemimpin yang memperjuangkan hak-hak anggota, mengayomi, menjaga marwah organisasi, serta membesarkan dan memperjuangkan kepentingan insan pers,” tegas Sintya.

‎Di sisi lain, Ketua Steering Committee (SC) PWI Sulut, Jemmy Senduk, mengakui pencalonan ini sebagai momen penting.

‎“Ini patut diapresiasi. Kehadiran perempuan dalam kontestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi PWI Sulut,” ujarnya.

‎Namun di balik apresiasi itu, realitasnya lebih tajam, minimnya keterwakilan perempuan dalam pucuk kepemimpinan organisasi pers masih menjadi pekerjaan rumah besar.

‎Secara nasional pun, fenomena seperti ini masih jarang terjadi.

‎Dalam bursa calon, Sintya bukan tanpa pesaing. Ia masuk sebagai pendaftar keempat, menyusul nama-nama seperti John W. Paransi, Raymon Wowor, Faruk Langaru, dan Merson Simbolon. Dominasi kandidat laki-laki justru mempertegas betapa langkah Sintya menjadi anomali sekaligus ujian.

‎Panitia memastikan pendaftaran masih dibuka hingga Kamis (19/3/2026) pukul 00.00 WITA menjadi penentu siapa saja yang akan bertarung dalam perebutan kursi panas tersebut.

‎Dengan rekam jejak panjang di dunia jurnalistik mulai dari TV5 Dimensi, Kompas TV, hingga SCTV ,Sintya membawa modal pengalaman yang tak bisa dipandang sebelah mata. Namun pertarungan ini bukan semata soal jam terbang, melainkan keberanian mengubah wajah organisasi.

‎Kini, PWI Sulut berada di persimpangan, bertahan dalam pola lama yang nyaman, atau mengambil risiko dengan membuka ruang bagi kepemimpinan baru yang lebih inklusif dan progresif.

‎Satu hal pasti kemunculan Sintya telah mengguncang status quo. Dan dari titik ini, arah masa depan PWI Sulawesi Utara mulai dipertaruhkan.(***)

No More Posts Available.

No more pages to load.