SITARO– Perjuangan demni kemanusiaan terus bergulir tanpa jeda di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Di tengah masa transisi pascabencana banjir bandang yang meninggalkan luka mendalam, pemerintah daerahj tidak tinggal diam.
Upaya demi upaya ditempuh untuk memastikan masyarakat terdampak dapat kembali bangkit dari keterpurukan.
Bupati Kerpulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit, S.K.M., mengambil langkah strategis dengan melakukan audiensi langsung ke pemerintah pusat.
Ia membawa dokumen resmi permohonan penambahan anggaran guna mempercepat pemulihan pascabencana yang melanda Pulau Siau.
Audiensi tersebut berlangsung di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Kamis (29/1/2026).
Bupati Chyntia bertemu langsung dengan Sesditjen Bina Keuangan Daerah, Dr. Drs. Horas Panjaitan, M.Ec.Dev., dalam upaya memperjuangkabn dukungan fiskal bagi daerah yang tengah berjuang memulihkan diri.
Lanngkah ini menjadi bukti bahwa pemulihan pascabencana bukan sekadart wacana, tetapi komitmen nyata yang diperjuangkan hingga ke tingkat nasional. Pemerintah daerah memahami bahwa kebutuhan pemulihan tidak dapat ditanggung sendiri tanpa dukungan dari pemerintah pusat.
Banjir bandang yang menerjang Pulau Siau sebelumnya telah menyebabkan kerusakan besar. Sejumlah fasilitas umum mengalami keruisakan, sementara banyak rumah warga hancur atau tidak lagi layak huni. Kondisi tersebut memaksa sebagian masyarakat kehilangan tempat tinggal dan harus memulai kembali dari titik nol.
Dalam situassi seperti ini, kehadiran pemerintah menjadi harapan utama masyarakat. Bupati Chyntia menyadari bahwa pemulihan tidak hanya membutuhkan waktu, tetapi juga dukungan anggaran yang memadai untuk membangun kembali infrastruktur dan kehidupan warga.
“Pemerintah daerah tidak akan berhenti berjuang. Semua langkah dilakukan demi memastikan masyarakat Sitaro mendapatkan perhatian dan bantuan yang layak,” menjadi semangat yang tercermin dalam perjuangan tersebut.
Audiensi ini juga menjadi simbol bahwa suara masyarakat Sitaro dibawa langsung ke meja pengambil kebijakan nasional. Setiap dokumen yang diserahkan bukan sekadar berkas administratif, melainkan representasi dari harapan ribuan warga yang terdampak.
Di sisi lain, masa transisi pascabencana merupakan fase krusial. Pada fase ini, pemerintah harus memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, sekaligus merancang langkah pemulihan jangka panjang yang berkelanjutan.
Bupati Chyntia menegaskan bahwa pembangunan kembali tidak hanya tentang fisik, tetapi juga tentang memulihkan rasa aman dan kepercayaan masyarakat. Kehadiran negara harus dirasakan secara nyata oleh mereka yang terdampak.
Langkah proaktif yang dilakukan pemerintah daerah juga mendapat perhatian dari berbagai pihak. Sinergi antara pemerintah daerah dan pusat menjadi kunci utama dalam mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana.
Di tengah segala tantangan, semangat kemanusiaan menjadi landasan utama perjuangan ini. Pemerintah daerah hadir bukanm hanya sebagai administrator, tetapi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.
Upaya inii juga menjadi refleksi kepemimpinan yang responsif terhadap kondisi rakyatnya. Tidak menunggu, tetapi bergerak cepat dan langsung mencari solusi di tingkat yang lebih tinggi.
Bagi masyarakat Sitaro, perjuangan ini menjadi secercah harapan di tengah duka yang belum sepenuhnya sirna. Mereka melihat bahwa pemerintah tidak meninggalkan mereka dalam menghadapi masa sulit.
Harapan kini tertuju pada dukungan pemerintah pusat agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat dan efektif. Tambahan anggaran diharapkan mampu mempercepat pembangunan kembali fasilitas umum dan rumah warga yang rrusak.
Di atas segalanya, perjuangan ini adalah tentang kemanusiaan. Sebuah ikhtiar tulus yang diiringi doa dan harapan, agar Tuhan memberkati setiap daya dan upaya pimpinan daerah demi kesejahteraan masyarakat Kabupaten Kepulauan Sitaro.(tonglee/*)
