SANGIHE, SuaraSulut.com — Jemaat GMIST Yerusalem Enemawira pada Selasa (13/5/2025) menjadi saksi semaraknya pawai kampanye perlindungan anak yang diikuti oleh Pusat Pengembangan Anak (PPA) Cluster se-Sangihe.
Kegiatan ini bukan sekadar parade biasa, melainkan sebuah pernyataan sikap dari generasi muda Sangihe untuk tetap berakar pada budaya di tengah gempuran kemajuan teknologi yang kian pesat.
Dipusatkan di halaman Jemaat GMIST Yerusalem Enemawira, anak-anak dari berbagai penjuru Sangihe berkumpul, menampilkan kreativitas dan semangat mereka dalam pawai yang mengusung tema “Melestarikan Budaya, Membangun Masa Depan”. Tema ini sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi anak-anak saat ini, di mana arus informasi digital tak terbendung berpotensi menggerus nilai-nilai luhur dan karakter lokal.
Pawai ini menjadi wadah nyata bagi anak-anak untuk tidak hanya mendapatkan perlindungan dan bimbingan, tetapi juga ruang aman dan nyaman untuk tumbuh secara fisik, mental, dan sosial, sambil merayakan identitas budaya mereka. Melalui berbagai penampilan dan atribut yang ditampilkan dalam pawai, mereka secara aktif menunjukkan komitmen untuk menjaga warisan nenek moyang.
Kehadiran Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, dalam pelepasan rombongan pawai memberikan dukungan moril yang besar bagi seluruh peserta dan panitia. Dalam sambutannya yang singkat, Bupati menggarisbawahi pentingnya perlindungan anak di era digital dan mengajak anak-anak untuk cerdas memanfaatkan teknologi sebagai alat positif untuk meningkatkan kapasitas diri – baik hard skill maupun soft skill, sambil tetap memperkuat nilai-nilai budaya.
“Kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari komitmen kita dalam menjaga, melestarikan, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya lokal yang menjadi jati diri kita,” ujar Bupati, menegaskan bahwa pawai ini lebih dari sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol dari upaya kolektif.
Pawai ini sejalan dengan visi Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, “Muda Berkarya, Wujudkan Sangihe lebih sejahtera dan berbudaya”, yang menempatkan generasi muda sebagai agen perubahan yang tangguh, kreatif, dan berdaya saing, namun tetap setia pada akar budaya lokal.
Melalui langkah-langkah kecil di sepanjang rute pawai, anak-anak Sangihe menunjukkan bahwa mereka siap menjadi generasi yang menjaga “jiwa peradaban” – yaitu budaya – sambil terus menimba ilmu sebagai “akar perubahan peradaban”. Pawai ini adalah penegasan bahwa masa depan Sangihe ada di tangan generasi muda yang berani bermimpi, mencoba, dan tumbuh menjadi pribadi berakhlak mulia, menjadi agen perubahan positif bagi keluarga, masyarakat, dan daerah tercinta.
Semaraknya pawai di hari itu menjadi pengingat penting bagi semua pihak: bahwa tugas melindungi anak tidak terlepas dari membekali mereka dengan bekal budaya dan karakter yang kuat, agar mereka mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri
(Erick Sahabat)
