Tarian Budaya, Dero dan Lulo Jangan Tergerus Budaya Asing

oleh -8447 Dilihat
Tari Dero : Foto Dok : kikomunal-indonesia.dgip.go.id
Tari Dero : Foto Dok : kikomunal-indonesia.dgip.go.id

INDONESIA merupakan negara yang memiliki keberagaman suku dan kekayaan budaya sehingga menjadi identitas diri atau ciri khas bangsa yang harus selalu dilindungi dan dilestarikan keberadaannya.

Di tahun 2024 ini, masyarakat Indonesia wajib menjaga dan melestarikan budaya aslinya agar tidak punah seiring berjalannya waktu. Apalagi sempat terpinggirkan karena masuknya budaya dari luar negeri.

Dari sekian banyak variasi budaya yang ada di Indonesia, salah satunya berasal dari daerah Sulawesi yaitu Dero atau Modero dan Lulo atau Molulu.

 

Dero/Modero

Menurut sejarahnya, Tari Dero atau Madero merupakan salah satu tradisi lama Suku Pamona yang masih dipertahankan hingga saat ini. Tarian ini sering dibawakan masyarakat dalam rangka pesta adat, upacara adat, pesta panen raya dan acara adat lainnya.

Bagi masyarakat Suku Pamona, Tari Dero merupakan ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan masyarakat atas apa yang telah diberikan Tuhan kepada mereka.

Tari Dero biasanya dibawakan secara massal atau bersama-sama dalam jumlah besar. Mereka berkumpul, baik laki-laki maupun perempuan, baik muda maupun tua.

Diiringi musik pengiring dan nyanyian puisi, mereka menari dengan gerakannya yang khas dan penuh kegembiraan. Tarian ini kemudian diturunkan secara turun temurun oleh masyarakat Suku Pamona dan masih dipertahankan hingga saat ini.

 

Lulo/Malulo

Tari Malulo atau Lulo merupakan salah satu jenis seni tari yang berasal dari Sulawesi Tenggara. Tarian ini berasal dari Suku Tolaki di Kabupaten Konawe yang hingga saat ini masih melestarikan Tari Malulo sebagai tarian persahabatan.

Dalam buku Lensa Budaya (2008) karya Musnani Wahida, pada zaman dahulu tarian ini ditampilkan dalam upacara adat seperti pernikahan, pesta panen, dan pelantikan raja.

Tari Malulo mempunyai filosofi persahabatan yang ditampilkan oleh para pemuda suku Tolaki sebagai sarana untuk saling mengenal, mencari jodoh dan mempererat tali persaudaraan. (*)

 

Dikutip dari berbagai sumber:

-Buku Lensa Budaya (2008) karya Musnani Wahida

– https://infodesa.id