Info Terkini….Banjir Kepung Manado, Sudah Ada Korban Meninggal, Ini Imbauan BMKG

Manado–Hujan lebat yang terus menguyur Kota Manado dan sekitarnya sejak Jumat (27/01/2023) dinihari hingga saat ini pukul 10.51 Wita, telah menyebabkan banjir kepung Kota Manado. Tak hanya rumah warga terendam dan mobil hanyut, tetapi sudah ada satu korban tewas. Simak beberapa video pendek dampak hujan lebat di Manado, dikutip Suarasulut.com dari beberapa media sosial milik warga Kota Manado yang menyiarkan langsung kondisi sekitar mereka tinggal.

IMG_3613

IMG_3614

IMG_3616

Sementara itu, BMKG mengeluarkan imbauan waspada cuaca ekstrem dan antisipasi potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Sulut ME.02.04/009/KMDC/I/2023.

Analisis kondisi dinamika atmosfer di wilayah Sulawesi Utara yang masih signifikan terhadap peningkatan hujan yaitu terdapat pola angin streamline (lapisan 3000 feet) yang membentuk pola shearline dan konvergensi di wilayah Sulawesi Utara yang meningkatkan aktivitas konvektif dan pertumbuhan awan hujan, anomali suhu muka laut di Laut Sulawesi bernilai 0.5 – 2 oC yaitu dapat menambah massa uap air semakin banyak di atmosfer serta pengamatan cuaca udara atas menunjukan indeks labilitas atmosfer lokal dengan intensitas sedang.

Kondisi tersebut mempengaruhi pertumbuhan awan-awan Cumulonimbus semakin intens yang dapat mengakibatkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung dan hujan es.

Untuk itu kami menghimbau masyarakat dan pemerintah terkait di beberapa wilayah agar tetap waspada dikarenakan masih berpotensi terjadinya cuaca ekstrem yang dapat mengkibatkan bencana hidrometeorologi (genangan, banjir, banjir bandang, angin kencang, puting beliung, hujan es maupun tanah longsor) di wilayah Kepulauan Sangihe, Kep. Sitaro, Kep. Talaud, Minahasa, Minahasa Selatan, Bolmong, Bolmong Utara, Bolmong Selatan, Bolmong Timur, Manado, Bitung, dan Minahasa Utara.

Pemerintah dan masyarakat dihimbau untuk untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan khususnya didaerah rawan banjir, tidak berada di lereng bukit atau pohon dan baliho semi permanen yang berpotensi tumbang, lebih mengintensifkan koordinasi, sinergi, dan komunikasi antar pihak terkait untuk kesiapsiagaan antisipasi bencana hidrometrorologi.(wal/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version