Optimisme Kebangkitan Perkebunan Sulut, Begini Terobosan Hebat Dilakukan Pemprov

SUARASULUT.COM,MANADO— Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, sangat optimis kebangkitan Perkebunan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Mewujudkan misi ini, segudang terobosan Gubernur Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw, terus dilakukan untuk mendorong kesejahteraan petani, khususnya disektor perkebunan, terus terlihat.
Melalui Dinas Perkebunan (Disbun) Sulut dipimpin Refly Ngantung, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara terus menggenjot produktivitas komoditas kelapa, cengkeh, pala hingga kopi. Khusus kelapa salah satunya dengan memperkenalkan varietas kelapa unggulan baru yang diklaim lebih produktif. Terkait anjloknya harga kopra, Ngantung mengatakan pihaknya memiliki solusi dengan memproduksi berbagai turunan dari kelapa.
“Solusinya seperti mengolah kelapa menjadi minyak kelapa. Dan ini merupakan alternatif untuk meningkatkan nilai tambah kelapa,” ujar Ngantung, saat menjadi narasumber media gathering melalui Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan di Lobby Lantai I Kantor Gubernur, Jumat (15/11/2019) dengan moderator Kabag Humas Christian Iroth.
Bentuk keseriusan Pemprov Sulut, pemerintah OD-SK telah mengalokasikan anggaran tahun 2019 sebesar Rp 14 Miliar untuk membangun unit pengolah minyak kelapa sebanyak 37 unit.
“Saat ini telah selesai dibangun 18 unit dan sudah mulai memproduksi minyak kelapa. Sedangkan pada akhir Desember 37 unit tersebut sudah terbangun dan berproduksi. Ini merupakan respon atas program Operasi Desa Sukses Kelapa (OD-SK),” jelasnya.
Selain itu, peningkatkan produktivitas tanaman perkebunan juga terus dilaksanakan melalui beberapa langkah, diantaranya intensifikasi, pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT), pengembangan perbenihan, peremajaan hingga pelatihan dan pembimbingan teknis petani.
Terkait intensifikasi, Dinas Perkebunan telah melakukannya pada tanaman kakao, aren, cengkeh, pala serta rehabilitasi tanaman kopi.
Peningkatan produktivitas tanaman perkebunan juga dibarengi kegiatan kompetensi petani dengan menggelar pelatihan petani dan pelaku agribisnis yang rutin dilaksanakan.
Tak sampai disitu, guna mengoptimalkan pengolahan, Disbun Sulut bahkan rutin menyalurkan bantuan unit pengolahan hasil. Selain beberapa hal diatas, pemerintahan OD-SK pun melakukan terobosan inovatif untuk meningkatkan kesejahteraan petani, diantaranya Konservasi lahan melalui pembuatan rorak, Pengembangan optimasi lahan tanaman kopi, Pembangunan embung untuk konservasi air, Membangun sumur resapan untuk lahan cengkeh, Perbenihan, peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi, Perluasan areal perkebunan, Pengembangan wilayah-wilayah tanaman perkebunan, Peremajaan dan pelatihan untuk pengolahan minyak kelapa hingga bantuan alat pengering cengkeh.
“Semua terobosan ini dilakukan guna mendukung program Nawacita dari Presiden Joko Widodo dan visi misi pak Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw, yakni Terwujudnya Sulawesi Utara Berdikari Dalam Ekonomi, Berdaulat Dalam Pemerintahan dan Politik, serta Berkepribadian Dalam Budaya,” tegas Ngantung.
Kadisbun Sulut Refly Ngantung mengapresiasi FGD digagas Biro Humas dan Protokol, kegiatan ini sebagai momentum kembali berjayanya komoditi perkebunan diantaranya kelapa, cengkeh dan pala Sulut sejak dulu terkenal hingga luar negeri.
Ngantung mengingatkan pentingnya upaya peningkatan sumber daya manusia dan diversifikasi komoditi perkebunan. “Mengontrol harga kopra, pala dan cengkeh itu sangat sulit. Tapi ada tiga jalan keluar yaitu meningkatkan kemampuan dan semangat kerja petani. Kedua, diversifikasi produk misalnya diversifikasi produk turunan kelapa. Ketiga, diversifikasi komoditi dengan memanfaatkan Iahan. Jika ada lahan satu hektar kita bisa tanam kelapa, cabai, jagung dan lainnya,” ujarnya.
Belum moncernya harga kopra diakibatkan saat ini minyak nabati dunia dihasilkan dari enam komoditi. Selain kelapa dan sawit masih ada bunga matahari dan lainnya menjadi pemyebab berubahnya harga pasar minyak nabati dunia.“Kalau dulu hanya minyak kelapa. Tapi sekarang ada komoditi lainnya. Sehingga pasar dunia tidak tergantung pada kelapa saja,” beber Ngantung.
Kendati demikian, tambah Ngantung, Pemprov Sulut telah mengantisipasi hal ini dengan menyiapkan alat pengolahan minyak kelapa di Sulut. “Solusinya dengan meningkatkan konsumsi minyak kelapa dalam negeri. Selain itu, petani juga bisa mengolah kelapa menjadi VCO,” tandasnya.
Menariknya, Kadisbun Sulut menyebut kelapa, pala dan cengkeh merupakan komoditi seksi. Menurutnya, kelapa Sulut yang masih organik merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki kelapa terbaik dunia. Adapun pala Sulut yang terdapat di Siau juga sudah mendunia dan memiliki sertifikat indikasi geografis.
“Untuk cengkeh, kita sendiri punya indikasi geografis cengkeh Minahasa yang punya kadar tinggi yakni kadar eugenol pada cengkeh dibandingkan daerah yang lain di Indonesia sehingga kita punya posisi tawar yang tinggi,” paparnya.
Diketahui, Senyawa eugenol merupakan senyawa berwujud cairan bening hingga kuning pucat dengan aroma menyegarkan dan pedas seperti bunga cengkeh kering, memberikan aroma yang khas pada minyak cengkeh.
FGD diikuti kalangan wartawan yang tergabung dalam Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS) ikut menghadirkan narasumber Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia Sulut Eko Adi Irianto dan Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Provinsi Sulawesi Utara Dendi Handiyatmo.(wal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *