Tangan Dingin OD-SK, Pariwisata Sulut Berkibar

SUARASULUT.COM,MANADO— Sektor Pariwisata sejak Provinsi Sulawesi Utara dipimpin Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw, berkembang pesat. Buah dari kerja keras gubernur dan wakil gubernur pilihan langsung rakyat Daerah Nyiur Melambai itu, Presiden Jokowi menetapkan KEK Pariwisata Likupang masuk dalam lima destinasi pariwisata super prioritas.
Data BPS, jumlah wisatawan mancanegara (Wisman) yang datang ke Sulawesi Utara melalui pintu masuk bandara Sam Ratulangi bulan Juli 2019 sebanyak 11.207 orang dibanding bulan Juni 2019 meningkat sebesar 34,34 persen.
Wisatawan mancanegara didominasi oleh warga Tiongkok sebanyak 9.793 orang (87,41 persen), diikuti oleh Jerman 159 orang (1,42 persen), Amerika 131 orang (1,17 persen). Jumlah wisatawan mancanegara dating Sulawesi Utara secara kumulatif mencapai 73.137 orang. Angka ini meningkat dibandingkan jumlah wisatawan mancanegara secara kumulatif Tahun 2018 yaitu 71.000 Orang.
Dampaknya, ekonomi Sulawesi Utara menduduki peringkat tertinggi di Indonesia. Tentunya ini tak lepas dari pertumbuhan pariwisata Di balik kenaikan pesat tersebut.
Dibalik suksesnya Pariwisata Sulut di tangan OD-SK, Biro Protokol dan Humas mengagas Media Gathering, berlangsung Rabu (6/11), pagi hingga siang bertempat di lantai II Kantor Pemprov Sulut, untuk mengupas tuntas, tantangan, peluang dan program-program untuk terus membawa pariwisata Sulut tidak hanya go nasional tetapi internasional.
Pun narasumber dihadirkan Kepada Dinas Pariwisata Sulut, Daniel Mewengkang, Ketua ASITA Sulut Merry Karouwan, dari PHRI, I Putu Anom dan Hartini Mochtar serta staf khusus Gubernur Bidang Pariwisata, Dino Gobel. Dengan moderator Kabag Humas Christian Iroth, serta menghadirkan jurnalis liputan Pemprov Sulut.
Terungkap dalam diskusi, Kadis Pariwisata Daniel Wewengkang mengatakan pertumbuhan wisatawan mancanegara (wisman) di Sulut sangat pesat, kunjungan wisman ke Sulut di 2018 sebanyak 127.879 orang. Kemudian jumlah kunjungan wisnus sebanyak 1.958.899 orang. Target kita di 2019, jumlah kunjungan wisman bisa mencapai 200.000 orang, dan realisasinya sangat positif.
Wisatawan masuk melalui Bandara Internasional Sam Ratulangi, baik dengan penerbangan charter maupun terjadwal. Dari Manado, para wisman berkeliling ke destinasi-destinasi sekitarnya, seperti Kota Tomohon, Danau Tondano, Pulau Bunaken, Lembeh, Bangka, Tahuna, Ulu dan lainnya.
“Mereka di Sulut satu sampai dua minggu, dari Manado itu 90 persen wisman lanjut ke Tomohon. Itu belum termasuk ke Bunaken, kalau ke Bunaken bisa dua minggu minimal,” tuturnya. Tomohon merupakan kota dengan berbagai obyek wisata alam dan budaya yang jaraknya tidak jauh dari Manado. Manado-Tomohon bisa ditempuh hanya 45 menit dengan jalur darat. Soal penginapan, wisman tersebut masih mendominasi di Manado, meski wisatanya menyebar ke berbagai destinasi.
Lanjut dia, guna menunjang pembangunan pariwisata, pihaknya menyeriusi soal sumber daya manusia (SDM). Berbagai upaya dilakukan termasuk menjaring kerja sama dengan pihak luar, seperti mengirim mahasiswa magang ke Jepang, kerja sama dengan Surya Institute, serta melalui pendidikan formal lainnya.
Pun keberadaan hotel di Sulut sebanyak 363 buah dengan jumlah 8.207 kamar, 66 unit homestay, 1.133 unit restoran/rumah makan, serta terdapat 50 destinasi wisata alam dan tiga destinasi unggulan wisata budaya di Sulut.
“Sejumlah perusahaan penerbangan lainnya mulai melirik masuk ke Sulut. Seperti China Southern Airlines yang ingin bekerja sama membuka penerbangan langsung dari Manado ke delapan kota besardi Tiongkok dan Sabah, Malaysia. Dan khusus Manado-Davao Filipina sudah mulai beroperasi,” paparnya.
Lanjut dia, sejumlah proyek strategis terus digenjot guna menunjang sektor pariwisata yakni pengembangan Sam Ratulangi International Airport, Jalur Kereta Api Manado-Bitung, Tol Manado-Bitung, Manado Outer Ring Road III dan TPA Regional.
Dia menyebut, berbagai persiapan terus dirampungkan pemerintah baik kondisi pelabuhan, pembangkit listrik, serta pembangunan KEK Pariwisata Likupang.
“Selain banyaknya destinasi unggulan pariwisata di Sulut, salah satu yang menjamin yakni kondisi wilayah yang aman dan nyaman. Masyarakat Sulut sangat ramah menyambut para wisatawan yang berkunjung ke daerahnya,” tegas.
Terobosan lain terus dilakukan, koordinasi dengan Kabupaten dan Kota se-Sulut karena sesungguhnya yang memiliki destinasi wisata bukan Provinsi tetapi Kabupaten dan Kota.”Koordinasi untuk bersinergi dengan Kabupaten Kota intens dilakukan,” tegas Mewengkang.
Pariwisata Sulut terus berkembang pesat ternyata berdampak postif sector perhotelan. Pegurus Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia (PHRI), I Putu Anom maupun Hartini Mochtar menegaskan, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang sebesar 67.30 persen meningkat 6,82 poin (11,28 persen) jika dibandingkan dengan tahun lalu. Secara YoY menurun sebesar 0,07 poin (-0,10 persen) dibandingkan dengan TPK bulan 2018.
Menurut klasifikasi bintang, TPK hotel bintang 4 mencapai
62,59 persen dan merupakan TPK tertinggi. Sementara TPK hotel bintang 3 sebesar 61,26 persen, diikuti hotel bintang 2 sebesar 57,41 persen, hotel bintang 1 sebesar 57,26 persen, dan hotel bintang 5 sebesar 53,02 persen.
Rata-rata lama menginap tamu (RLMT) asing pada hotel berbintang mencapai 3,91 hari. Untuk RLMT Indonesia pada bulan Juli 2019 mencapai 2,03 hari meningkat 0,05 poin. Secara keseluruhan RLMT sebesar 2,32 hari.
Ketua ASITA Sulut Merry Karouwan, mengungkapkan bahwa kemajuan dan terobosan-terobosan dalam pembangunan daerah termasuk sektor pariwisata tidak lepas dari kekompakan Gubermur Sulut Olly Dondokambey SE serta Wakil Gubernur Drs. Steven Kandouw.
“Dari kekompakan mereka berdua, didukung dengan sinergitas dari berbagai pihak berkompeten, maka Sulut semakin dikenal dunia internasional.
Merry Karouwan mengatakan bahwa pihaknya siap bermitra dengan pemerintah dalam memajukan pariwisata Sulut. “Kami siap memfasilitasi kedatangan para wisatawan dengan berbagai pilihan paket tour yang ada. Namun intinya, bahwa kekompakan dalam sebuah kerja sama tim itu sangat penting untuk dikedepankan,” ujarnya.
Pariwisata Sulut dibangun Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw telah berdampak positif bagi perekonomian masyarakat dan Kabupaten/Kota. Ini tercipta karena adanya sinergitas antara Pemprov dan Pemkab/Pemkot yang ada di Sulut, serta peran asosiasi Pariwisata seperti Asita Sulut dan asosiasi Pariwisata lainnya.
Karena itu, memupuk sinerjitas antara pemprov dan pemerintah Kabupaten dan Kota, serta asosiasi, mutlak dilakukan. Termasuk pula dengan asosiasi pariwisata.
Menurut staf khusus Gubernur Bidang Pariwisata, sinergitas bersama asosiasi dan dinas yang dimotori oleh Asita tetap dipertahankan bahkan ditingkatkan. Pemprov sendiri terus menerapkan triple A yakni accesaibility, amenities, dan attraction.
“Accessibility yaitu akses masuk ke objek wisata agar cepat dan mudah, amenities yang berarti fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh wisatawan domestik maupun mancanegara dan attraction yaitu daya tarik dari objek wisata yang dapat dijual dan dinikmati oleh wisatawan,” ungkap Gobel.
Pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan di Sulut, maka paling kecil menimbulkan kerusakan karena prinsip pembangunan pariwisata adalah sustainable atau berkelanjutan.
Lingkungan yang terjaga merupakan aset bagi pariwisata untuk mendatangkan wisatawan. Sustainable tourism development telah menjadi trend. Pengembangan pariwisata dengan mempertimbangkan 3P yakni planet/alam, people/masyarakat, dan prosperity/kesejahteraan.
“Aspek people itu kita harus perhatikan apa keinginan wisatawan, lalu planet adalah bagaimana kita merawat dan menjaga tempat-tempat wisata, dan terakhir prosperity kita wajib perhatikan nilai-nilai ekonomis dari sebuah tempat wisata,” ungkapnya.
Ia mengatakan, pengembangan potensi destinasi wisata berbasiskan pariwisata berkelanjutan mengandalkan penduduk lokal desa dalam pengelolaannya. Untuk itu diharapkan partisipasi masyarakat dalam mewujudkannya.
Sektor pariwisata Sulut saat ini berkembang pesat mengikuti arus globalisasi yang menuntut adanya peningkatan baik infrastruktur objek maupun daya tarik termasuk sumber daya manusia sebagai subjek dinamisasi. “Sebagai sektor yang bersifat multiplier effect, pariwisata diharuskan menjaga sinkronisasi kebijakan nasional serta globalisasi yang semakin kompetitif,” tegas Gobel.
Pengembangan Pariwisata Picu Pertumbuhan UMKM
Terungkap juga dalam Media Gathering yang di moderator Kabag Humas Christian Irot, sejumlah masukan dari kalangan jurnalis, untuk kemajuan pariwisata Sulut yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Dimana sektor pariwisata yang terus dikembangkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawa kepemimpinan OD-SK, ini tentunya bisa membawa angin segar bagi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Daerah Nyiur Melambai. UMKM dan Pariwisata memang memiliki hubungan erat. Dapat dikatakan pelaku UMKM akan bertumbuh secara pesat dengan adanya kemajuan di sektor pariwisata.
Pelaku UMKM dapat memasok kebutuhan terkait dengan pariwisata, seperti layanan wisata, kuliner, home stay hingga cendera mata atau suvenir.Jadi, UMKM akan terbantu sekali dengan bergeraknya sektor pariwisata. Keberadaan daerah wisata akan menyuburkan dan menumbuhkan UMKM.
Namun demikian, sebagian besar UMKM masih mengelola bisnisnya secara tradisional dan kurang inivasi. “Inovasinya masih kurang, terutama UMKM di pedesaan. Bisnis masih banyak dikelola secara tradisional.
Para pelaku Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) bisa lebih proaktif, tanpa harus menunggu bantuan dari Pemerintah. Pasalnya, pemberian bantuan tidak dapat serta merta diberikan oleh Pemerintah, apabila pelaku UMKM tidak Proaktif dalam memperkenalkan usahanya.
Apabila para pelaku UMKM tidak proaktif, konsumen jelas tidak akan melirik, bahkan Pemerintah juga akan kesulitan mendata usahanya. “Jadi Pemerintah juga tidak bisa disalahkan,”.(wal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *